Lapak Dimonopoli, Pedagang Pasar Lirung Desak E2L-MAP Turun Tangan

Sulut Times, Lirung: Pedagang kecil di Pasar Lirung mendesak agar Pemerintah Daerah dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati Talaud dr. Elly Engelbert Lasut dan Moktar Arunde Parapaga (E2L-MAP) untuk segera turun tangan menyelesaikan masalah pembagian lapak yang tak adil.
Seperti yang diungkapkan Pak Yusti warga kelurahan Lirung Matane yang kesehariannya juga beraktivitas sebagai pedagang di Pasar tersebut saat dihubungi Minggu (19/07/2020).


Ia Mengatakan, selain praktek monopoli yang dilakukan oleh orang per orang karena diduga memiliki kedekatan dengan pejabat tertentu di instansi teknis.

Baca Juga : Bupati E2L Tinjau Pembangunan RS Pratama Sekaligus Penggalangan Doa Menangkal Covid – 19


Dan yang lebih mencengangkan bahwa ternyata terungkap dipasar tersebut juga terjadi praktek jual-beli lapak antar pedagang, dimana ada pedagang yang mendapatkan bantuan lapak tapi tidak dikelola namun justru dijual ke pedagang lain dengan harga berkisar 5-7 juta rupiah bahkan praktek itu telah berlangsung lama dan yg lebih aneh sekarang pedagang tersebut memaksa untuk meminta lapak lagi.


“Torang ,,,! Tiga atau empat hari lalu pas pembagian lapak, Undian Kios kebetulan kita yang kase argumentasi disitu, memang ada yang orang lama tidak dapat, pertama karena mereka itu pada waktu lalu dekat dengan Bupati ibu SWM, kemudian saat mendapatkan lapak justru di jual ke orang lain dengan harga berkisar lima sampai tujuh juta rupiah, jadi dorang deng dorang baku jual, kedua orang yang bukan pedagang di pasar justru mendapatkan bantuan lapak karena merupakan tim sukses dari Ibu SWM,”ujar Pak Yusti

Baca Juga : E2L – MAP saluran bantuan kepada Toga & Todat Kecamatan Essang, Essang Selatan dan Beo Utara


Ia menambahkan bahwa saat ini praktek tersebut masih berlanjut karena sedikitnya ada tiga pedagang yang diduga memiliki hubungan dengan pejabat dalam instansi teknis dalam hal ini Dinas Perindag kabupaten kepulauan Talaud justru mendapatkan lapak lebih dari satu, sementara ada pedagang yang sangat membutuhkan lapak sebagai tempat berjualan tapi justru tidak dapat dan juga ada satu pedagang (berinisial E) yang memonopoli lapak terbuka dan dijadikan sebagai gudang, padahal lapak tersebut kalau difungsikan secara social dan merata itu bisa dimanfaatkan oleh empat sampai lima pedagang.
“Kalau dikuasai dan dimonopoli seperti ini, dengan pembagian lapak secara tidak merata dan tidak adil kepada rakyat maka pertanyaannya semestinya Pasar Lirung itu milik siapa?, apakah hanya milik bagi mereka yang dekat dengan pejabat? Atau milik Pemerintah yang diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat?” tandasnya kecewa.

Jangan Lupa di Bagikan !

Author: Melky Bidu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *