Sejumlah Pengamat Sebut Belum Penetapan Paslon, Kolom Kosong Tidak Ada di Minut

Suluttimes.com, AIRMADIDI – Sebutan kotak kosong sesuai perundangan tak lain adalah kolom kosong, demikian kata ini sering muncul dalam kontestasi politik.
Namun kolom kosong dalam perhelatan Pilkada Minahasa Utara (Minut) menurut sejumlah sumber tidak akan terjadi.
Sebab, penetapan pasangan calon di KPU masih beberapa minggu lagi, halnya komunikasi politik masih terus berlangsung.
Sebut saja Partai NasDem 5 kursi, Golkar 4 kursi, Gerindra 2 kursi dan Hanura 1 kursi. Jika Parpol ini menyatu, bukan tidak mungkin akan menjadi kekuatan besar dàn luar biasa.

Salah satu staf dosen Universitas Sam Ratulangi Manado, Toar Palilingan mengatakan gerakan kolom kosong, mungkin saja bagian dari upaya bakal pasangan calon (bacalon) sengaja memperkokoh kekuatan atau mempersempit ruang gerak lawan. “Apa iya ada kolom kosong di Minut? kan masih berproses. Sampai saat ini, Golkar dan NasDem belum umumkan. Termasuk Hanura dan Gerindra,” ujar Palilingan.

Palilingan menegaskan, hingga kini Pilkada Minut belum mengarah ke kolom kosong, karena masih ada dua kekuatan yang justru bisa saja bergabung.

Tetapi, sebaiknya tunggu saja mana yang diusung. Sebab dalam politik bisa saja berubah-ubah.
“Karena masih ada kekuatan besar yang ingin mengambil kesempatan untuk berbuat, sebut saja Golkar maupun NasDem. Bukan tidak mungkin jadi power sharing papan 1 atau 2. Tapi politik itu dinamis. Kita tak tahu. Tapi pasti bisa head to head,” sebutnya.

Palilingan menambahkan, kini masih menunggu kekuatan besar yang masing-masing berkepentingan untuk ikut ambil bagian dalam proses demokrasi dan mengabdi untuk kepentingan rakyat. “Semua partai besar begitu. Bukan tidak mungkin karena kepentingan, bisa menyatu,” sambungnya.

Di Minut masih berpeluang dua paslon. Tergantung dari pembicaraan, lobi politik. Segala sesuatu bisa saja terjadi.

Sebelumnya Pengamat Politik Universitas Sam Ratulangi Ferry Liando mengatakan, salah satu ciri demokrasi adalah adanya kompetisi dalam merebut kekuasaan. Jika terjadi calon tunggal maka tak ada kompetisi karena hanya akan melawan kolom kosong. Terdapat sejumlah sebab mengapa bisa terjadi calon tunggal pada Pilkada. Pertama, tidak ada pemberlakuan ambang batas parliement treshold di DPRD. Dengan demikian ada banyak parpol masuk DPRD. Hal itu menyebabkan kursi-kursi di DPRD terbagi pada banyak parpol. “Kondisi ini kemudian amat jarang parpol memperoleh jumlah kursi 20 persen dari jumlah total kursi di DPRD. Padahal UU Pilkada mensyaratkan parpol harus bisa memiliki kursi 20 persen sebagai syarat mengusung calon. Kemudian adanya ketentuan kewajiban mundur bagi ASN atau anggota DPRD jika menjadi calon. Banyak figur bagus di birokrat dan di DPRD namun tak bersedia jika harus mengundurkan diri. Ketiga, banyak parpol mandul,” tambah Liando.
Doktor jebolan Universitas Padjajaran ini menambahkan, ada parpol yang sesunguhnya memenuhi syarat untuk mengusung, namun tak bisa menyediakan calon untuk diusung.
“Ada dugaan banyak parpol memperjual belikan parpolnya kepada calon. Jual beli kursi sebagai syarat dukungan akan sangat rawan terjadi. Apalagi jika jumlah kursi parpol itu tak capai ambang batas. Kursi-kursi itu akan rawan dibeli. Apalagi ada calon yang diusung oleh parpol yang jumlah kursinya tidak cukup. Untuk mencukupinya Biasanya membeli kursi dari parpol lain,” tandas Liando.

Terpisah, tokoh masyarakat Minut Junius Mandagi juga mengungkapkan, tidak mungkin ada kolom kosong. Karena masih ada parpol yang belum menyatakan sikap. “Sedangkan sudah mengeluarkan SK masih bisa berpaling. Jadi tidak mungkin ada kolom kosong,” ujarnya.
Lanjutnya, jika kolom kosong terjadi, pesta demokrasi rakyat tidak ada. Tetapi, tidak mungkin pimpinan parpol serendah itu, tidak mau membuat pesta demokrasi di Minut. “Baiknya mengejar kemenangan, tetapi dengan cara yang santun dan demokratis. Dalam permainan politik berdemokrasi, baiknya berpolitik santun,” tukas om Utu sapaan akrabnya.

Sementara Ketua Bapilu Partai NasDem Minut, Winovel Lotulung SSos menambahkan, Shintia Gelly Rumumpe (SGR) hingga saat ini masih sebagai calon Bupati. “Kakak SGR tetap calon Bupati. Kami masih terus melakukan komunikasi politik dengan parpol lain yang memiliki kursi di DPRD,” jelasnya.

Senada Wasek Partai NasDem Minut Decky Senduk menegaskan partai besutan Surya Paloh tetap bertarung pada Pilkada 9 Desember nanti. “Komunikasi politik masih berjalan. Tunggu saja pendaftaran di KPU,” kuncinya. (st/dw)

Jangan Lupa di Bagikan !

Author: Dewi S

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *