Sekitar 5,7 Ton Komoditi Perikanan dan Pertanian Sulut Diekspor ke Jepang

Oleh: Ronald Ginting

Sulut Times, Manado – KPP Bea Cukai Manado berkomitmen mengawal kelanjutan ekspor langsung (direct call export) ke Jepang. Terbukti, Kepala KPP Bea Cukai Manado, M Anshar turun langsung meninjau proses pengiriman ekspor komoditi perikanan dan sampel komoditi pertanian menggunakan maskapai Garuda Indonesia di terminal kargo Bandara Sam Ratulangi Manado, Rabu (30/9) malam.

M Anshar memaparkan pada pekan kedua setelah launching minggu lalu, ada penambahan volume tonase ekspor dari Sulut ke Jepang. Bila pekan lalu volumenya sebanyak 5,7 ton, pada pengiriman kedua tadi malam, beratnya mencapai 6,144 ton.

“Untuk pengiriman kedua ini didominasi oleh ikan tuna loin, ikan tuna whole. Selain itu ada sampel komoditi pertanian seperti bawang merah, serai, lengkuas, dan gula aren,” jelas Anshar seusai meninjau proses pengiriman barang tersebut.

Ditambahkannya bahwa selain dari Sulut, komoditi dari Ambon seberat 8,5 ton juga ikut diekspor ke Jepang. Di mana pengirimannya tetap dilakukan dari Bandara Sam Ratulangi Manado.

“Jadi bila ditotal, ada sekitar 14,7 ton yang dikirim menggunakan Garuda Indonesia ke Bandara Narita Jepang,” kata dia menambahkan.

Dirinya menyambut baik kelancaran proses pengiriman tadi malam. Bahkan dia terus memotivasi para eksportir, maupun nelayan agar memanfaatkan kesempatan tersebut secara optimal.

“Kami dorong mereka untuk bisa mengirimkan komoditi yang berkualitas dengan perencanaan yang baik. Makanya kami terus mengedukasi mereka agar benar-benar bisa memanfaatkannya dengan maksimal, dan jangan ragu-ragu menggunakan Garuda Indonesia untuk mengekspor komoditi terbaik daerah kita ini,” terangnya.

Dia berujar masih ada selisih yang cukup banyak antara estimasi dan realisasi, seperti yang terjadi tadi malam. Di mana realisasinya selisih 1,7 ton lebih sedikit dibanding dengan estimasi sebelumnya.

“Karena itu kami berkomitmen untuk selalu mengawal ekspor ini,” tegasnya.

Tak lupa ia mengingatkan kepada pelaku usaha agar tidak terlalu lama submit dokumen-dokumen ekspor yang dibutuhkan. Pasalnya, dapat mengganggu proses pengiriman barang tersebut.

“Eksportir kami imbau jauh-jauh hari untuk melengkapi dokumennya. Jangan mepet-mepet waktunya,” sebutnya lagi.

Ke depan, dia berharap akan ada penambahan slot frekuensi pengiriman apabila proses ekspor ini sudah stabil.

Ikut dalam pengawalan proses tadi malam yaitu Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut, Tineke Adam. Kepada Exposenews, Tineke mengungkapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara merasa senang dengan adanya ekspor ke Jepang ini.

Sebab, ekspor dapat menggerakkan ekonomi masyarakat Sulawesi Utara. Nelayan, kata Tineke, ikut bahagia dengan adanya ekspor perikanan ini.

“Sekarang ini contohnya kan harga ikan tuna sudah beranjak naik, padahal beberapa bulan lalu sempat anjlok akibat pandemi covid,” sebut Kadis Tineke.

Pihaknya pun tetap turun ke lapangan menggerakkan para nelayan, meskipun pengiriman ikan ini menyesuaikan permintaan pembeli (buyer).

“Mereka banyak minta yang grade A. Bila tidak sesuai, buyer tidak mau pesan,” kata dia.

Mempertimbangkan soal kualitas tersebut, dia mengimbau untuk memperhatikan mutu ikan. “Jadi jangan hanya volumenya saja, tapi yang perlu diperhatikan adalah mutu ikannya. Kalau mutunya bagus pasti buyer akan menambah pesanannya,” ungkapnya.

Dia tetap optimistis ekspor komoditi perikanan Sulut ke Jepang ini akan berkesinambungan. Dan akan menjadi sumber pendapatan daerah yang siginifikan bagi kesejahteraan masyarakat Bumi Nyiur Melambai. (gtg)

Jangan Lupa di Bagikan !

0 0

Author: Ronald Ginting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *