oleh

Solusi Air Bersih Dari Limbah Kakao Ala Mahasiswa Universitas Pertamina

Sulut Times, JAKARTA, 23 Desember 2021 – Memasuki musim penghujan 2021, beberapa wilayah di Indonesia kembali dihadapkan pada dua masalah besar, yakni banjir dan krisis air bersih. Pengelolaan air yang tak bijak, disinyalir menjadi salah satu penyebab kedua masalah tersebut.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi ketersediaan air per kapita di Indonesia pada tahun 2035 mendatang hanya berjumlah 181.498 meter kubik per kapita per tahun. Angka ini berkurang jauh dari ketersediaan pada tahun 2010 yang mencapai 265.420 meter kubik per kapita per tahun. Di daerah pesisir Jakarta misalnya, air bersih adalah barang mewah yang hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Sebagian besar air tanah di wilayah ini sudah terintrusi oleh air laut, sehingga tak layak konsumsi.

Baca Juga  Indonesia Kembali Juara Umum The 4th Southeast Asia Bridge Federation (SEABF) 2019

Adalah A. A. Gd. Bagus Mahendra, mahasiswa Universitas Pertamina yang peduli pada isu ketersediaan air bersih. “Dengan bimbingan dosen di Program Studi Kimia, saya dan tim mencoba memanfaatkan limbah kulit coklat atau kakao untuk mengurangi kandungan garam pada air laut dan air payau dengan metode desalinasi. Sehingga, air yang telah didesalinasi ini dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Bagus dalam wawancara daring, Rabu (22/12).

Selain berpotensi mengamankan jumlah cadangan air bersih, inovasi ini juga diharapkan dapat membantu masyarakat lebih bijak dalam menggunakan air tanah. “Air tanah yang dikuras secara terus menerus, apalagi secara ilegal, akan berdampak pada menurunnya permukaan tanah. Juga meningkatkan risiko tenggelamnya wilayah tersebut,” ujar Bagus.

Komentar