Dengan integrasi studi geologi, geokimia, dan geofisika yang telah dilakukan tim, Jeremy menyebutkan diperoleh potensi panas bumi di lapangan tersebut mencapai 250 MW.
“Secara sumber daya, lapangan ini sangat ekonomis untuk dikembangkan karena tipe reservoir nya entalpi tinggi dan didominasi fasa air, sehingga berpotensi menghasilkan energi lebih tinggi dan ekonomis. Karenanya, kami merekomendasikan lapangan ini dikembangkan dengan enam sumur eksplorasi, delapan sumur produksi, enam sumur re-injeksi, dan 17 make-up well,” tutur Jeremy.
Secara ekonomis, lanjut Jeremy, pengembangan lapangan panas bumi ini membutuhkan investasi sebesar 3 juta USD untuk setiap MW listrik yang dihasilkan, dengan waktu balik modal selama 13 tahun, keuntungan bersih senilai 85 juta USD, dan Internal Rate of Return (IRR) mencapai 16 persen. Solusi dari Jeremy dan Tim memenangkan Juara 1 kategori Geothermal Competition, di ajang Annual Petroleum Competition and Exhibition (APECX) 2021. APECX merupakan acara tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers, Universitas Gadjah Mada (SPE UGM-SC). Juara 2 untuk kategori di ajang yang sama, turut diraih oleh Tim dari Universitas Pertamina beranggotakan Nicolas Silaen, Trisha Amanda Beryll, Daffa Rizki Purnomo, dan Abraham Danofan Sembiring.
Diakui Jeremy dan tim, kehadiran Mata Kuliah Geologi Panas Bumi, Geokimia Panas Bumi, Eksplorasi Panas Bumi, Hidrologi Panas Bumi, Manajemen dan Keekonomian Energi, serta Magnetotellurik dan Gravity, sangat membantu tim dalam mengidentifikasi potensi dan menyusun solusi alternatif untuk pengembangan lapangan panas bumi tersebut.
“Selain itu, kami juga terbiasa melakukan kunjungan lapangan dan kunjungan industri khususnya ke fasilitas milik PT Pertamina (Persero). Untuk menyempurnakan hasil riset ini, kami juga banyak berkonsultasi dan dibimbing langsung oleh pekerja profesional dari PT. Pertamina Geothermal Energy,” pungkas Jeremy.






























Komentar