Oleh: Ronald Munthe
Sulut Times, Manado – Sebagaimana kutipan Myers et al. 2000, Wilson et al. 2006, Pulau Sulawesi merupakan pusat keanekaragaman hayati yang sangat penting di Indonesia. Dari segi geografis, jumlah spesies mamalia endemik di Sulawesi terbilang tinggi dan memiliki keunikan spesial yang tidak terdapat di manapun (dikutip dari Whitten et al. 1987, Groves 2001, Cannon et al).
Ketua Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia, Yunita Siwi mengatakan dari kenyataan tersebut, dapat dijelaskan bahwa Sulawesi menjadi daerah prioritas dalam konservasi mamalia. Yunita mengakui pusat keanekaragaman hayati ini mengalami penurunan populasi satwa liar yang dilindungi selang 40 tahun terakhir ini.
“Ancaman yang terjadi dari penurunan ini karena pembukaan lahan dan perburuan yang disertai dengan perdagangan untuk dikonsumsi,” ujar Yunita.
Melihat situasi itu, tambah Yunita, pada Kamis (30/1) besok, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara, bekerja sama dengan LSM Yayasan Selamatkan Yaki Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara akan melaksanakan Lokakarya Mitigasi stategi perdagangan satwa liar dilindungi di Sulawesi Utara.
Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel Sintesa Peninsula Manado itu bakal dihadiri juga oleh beberapa instansi pemerintah daerah, LSM lokal, gereja dan komunitas pemerhati satwa liar di Sulawesi Utara, dan Duta Yaki Indonesia Khouni Lomban Rawung. “Tujuan acara ini untuk menyusun strategi dalam rangka menurunkan angka perdagangan ilegal satwa liar yang seharusnya dilindungi,” papar dia.
Kolaborasi bersama itu, lanjutnya, menyusun strategi yang sangat penting dan untuk menjaga keanekaragaman hayati Sulawesi Utara agar tidak punah. “Strategi yang bakal disusun ini kita harapkan akan mencegah kepunahan satwa akibat dari perdagangan illegal untuk dikonsumsi, supaya keseimbangan alam Sulawesi Utara terjaga, serta jauh dari bencana akibat kerusakan alam,” tutupnya.
























Komentar