Oleh: Ronald Ginting
Sulut Times, Manado – Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk Covid-19 di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BTKLPP) Kelas I Manado dipastikan mulai beroperasi Minggu (3/5), hari ini. Hal ini ditegaskan Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sulawesi Utara, dr Steaven Dandel, Sabtu(2/5).
Dandel menjelaskan bahwa persiapan akhir dari laboratorium PCR yang berada di BTKLPP sudah selesai 100%. Simulasi dengan beberapa sampel juga telah dilakukan, sehingga lab PCR ini dinyatakan bisa running.
“Kapasitas sampel yang dimilki laboratorium ini dapat mencapai 96 sampel, yang bisa diputar sekali jalan. Tapi tak semua bisa diisi sampel, karena harus disediakan juga ruang untuk mengontrol positif dari 96 sampel ini. Jadinya, sampel yang dapat diperiksa sekitar 90,” ujar Dandel menerangkan.
Tambah Dandel, bahwa pemeriksaan sampel membutuhkan waktu 9 hingga 12 jam, mengingat ada proses yang begitu rumit yang harus dilakukan tenaga analis, terutama proses ekstraksi tube sampel yang dibawa dari rumah sakit ketika diambil dari pasien. Sampel apusan dari hidung dan tenggorokan pasien pun harus hati-hati diperiksa, sebab bila sampel itu positif covid, dan mengenai orang yang memeriksanya, maka si pemeriksa bisa terjangkit juga.
“Mereka akan periksa dengan sangat hati-hati dalam wadah bio safety cabinet. Proses ekstraksinya begitu rumit. Saat itu ada proses menonaktifkan virus itu lewat cairan-cairan khusus yang membutuhkan waktu berjam-jam,” sebut Dandel.
“Setelah diekstraksi, barulah kemudian proses pemeriksaan PCR dilakukan yang membutuhkan waktu sekitar enam jam. Keseluruhan waktu yang dibutuhkan di antara 9 hingga 12 jam lamanya,” sambung dia.
Diterangkannya juga bahwa jika dipakai sehari penuh 1×24 jam, laboratorium itu bisa memeriksa 180 sampel, dengan perhitungan dibuat 2 shift dan setiap shift bisa memeriksan 90 sampel.
Dia berharap saat lab berjalan dengan baik, maka status pasien akan diperoleh secara cepat, sehingga hunian rumah sakit yang merawat pasien dalam pengawasan menjadi berkurang.
“Saat yang sama juga, kami melakukan antisipasi bahwa ketika pemeriksaan sudah ada di Sulut, justru pasien yang terkonfirmasi positif akan naik cukup drastis, seperti halnya di daerah lain,” tukas dia.
Diketahui sebelumnya, pemeriksaan laboratorium untuk sampel ini, selalu dikirim ke Jakarta atau ke Makassar, sehingga memakan waktu berhari-hari. (gtg)
























Komentar