General Manager PGE Area Lahendong Ahmad Yani secara terpisah menyampaikan bahwa program konservasi fauna Yaki ini dimana primata jenis Yaki diselamatkan dari menjadi peliharaan atau perdagangan ilegal melalui proses rehabilitasi dan kemudian untuk dilepasliarkan dalam rangka meningkatkan populasi alam. Medical Check-Up juga dilakukan untuk meminimalisir resiko penularan penyakit baik dari hewan ke manusia maupun sebaliknya.
“Harapan kami, dapat menghimbau masyarakat agar kegiatan memburu dan memelihara atau bahkan mengkonsumsi Yaki berkurang. Hal ini juga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi Yaki,” ungkap Ahmad Yani.
Menurut Ahmad Yani, upaya konservasi melalui Program Keanekaragaman Hayati ini bukan hanya dilakukan untuk meminimalkan dampak dari kegiatan operasi, tetapi juga bagian dari implementasi Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG-Environment, Social, and Governance) dan memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke ke 15 yaitu melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan ekosistem darat berkelanjutan dan menghambat hilangnya keanekaragaman hayati.
Saat ini PGE Area Lahendong dengan kapasitas pembangkitan sebesar 120 MW telah menopang kurang lebih 28% kebutuhan listrik masyarakat di Sulawesi Utara dan Gorontalo dari sumber energi ramah lingkungan yaitu energi panas bumi atau geothermal.
Indonesia sendiri saat ini berada pada peringkat kedua pengembangan panas bumi di dunia dengan total kapasitas terpasang sebesar 2.133 MW, dan kontribusi dari Wilayah Kerja PGE sebesar 88 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, yang terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri dan 1.205 MW yang dilaksanakan melalui Kontrak Operasi Bersama.



























Komentar