Suluttimes.com, MANADO – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menjamin stok jagung hibrida tetap aman di tahun 2020.
Sebab, perkiraan hingga Mei 2020, total produksi benih Jagung Hibrida di Sulut di lahan seluas 253,4 hektare (ha), estimasi produksi benih 510,000 Kg atau setara dengan kebutuhan lahan seluas 34,000 ha.
Ketersediaan benih jagung hibrida merupakan hasil karya anak bangsa varietas JH-37 di lahan seluas 20 hektare (ha), terbagi di kelompok tani (KT) Makapihok, Kecamatan Pusomaen, Minahasa Tenggara (Mitra), 32,40 ha di KT. Anugerah dan KT. Maju Jaya di Kecamatan Likupang Timur, 50 ha di Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Halnya 30 ha di KT. Matuari Kecamatan Tatapaan, Minahasa Selatan (Minsel), 50 ha di KT. Suka Maju, 20 ha di KT. Bukit Moria, 15 ha di KT. Tunas Muda dan 15 Ha di KT. Minaesaan, Kecamatan Romboken, Minahasa.
Melihat tingginya produksi di tahun 2019, Kementrian Pertanian (Kemetan) kembali memberikan kepercayaan kepada Distanak Sulut untuk melanjutkan program tersebut di tahun 2020. Dengan program tambahan ini setidaknya akan ketambahan benih di bulan Oktober di tahun berjalan, guna mencukupi kebutuhan benih di Sulut.
Disebutkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Sulut Ir. Novly G Wowiling MSi mengapresiasi program Kementan mempercayakam daerah Sulawesi Utara menjadi centra benih mewakili wilayah Indonesia Timur (Intim). “Kita perlu genjot percepatan pengembangan KT yang mampu menjadi produsen benih jagung untuk kedepan lebih berkembang, sehingga petani bisa merasakan manfaatnya. Terlebih dalam mendukung produk rakitan anak negeri, sehingga nantinya bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Intinya, Sulut bisa cukupi kebutuhan benih sendiri,” sebut Wowiling.

Hasil evaluasi lanjut Wowiling, panen jagung hibrida di Sulut dengan total rata-rata 6,24 ton/ha tongkol kering sawah.
Sementara hasil panen tertinggi di Kabupaten Minahasa estimasi 7,1 ton/ha. “Dijamin hasil panen jagung hibrida melimpah tahun ini, meski diserang ulat grayak, tidak berpengaruh signifikan, jadi tidak perlu khawatir, dan dari luas panen seluas 253,4 ha diperkirakan calon benih berkisar 525 Ton,” tukas Wowiling.
Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilhelmina J.N Pangemanan, SPtm NSi mengaku Sulut mampu menjadi sentra benih jagung dengan memberdayakan penangkar lokal untuk menghasilkan benih karya anak bangsa Varietas JH-37 yang bersertifikat dan dikawal dengan baik oleh Balai Sertifikasi Benih melalui Petugas PBT yang ada di setiap Kota/Kabupaten.
“Brigade Alsintan di Dinastanak Sulut ikut membantu percepatan program ini. Terbukti di tahun 2019 kemarin, dengan adanya bantuan alat berupa traktor besar milik Brigade Alsintan mampu mempercepat proses pengolahan di Kabupaten/Kota,” beber Pangemanan.
Contohnya, Meldy Rotulung (49) notanene Ketua KT Makapihok dari
dari daerah Minahasa Tenggara,
berhasil menjadi produsen Benih Jagung Hibrida rakitan anak bangsa, setelah Pengalamannya pernah menjadi produsen padi dan kedelai, kali ini banting setir menjadi produsen Benih Jagung Hibrida, karena dianghap lebih menguntungkan.
“Dengan bantuan program korporasi perbenihan jagung hibrida dari Kementan, bisa menghasilkan profit bersih hingga Rp.20 – 24 juta/ha, dibanding tanam jagung konsumsi, ada peningkatan 100 %,” ujar Meldy.
Halnya, Mikael Lumentut (Ketua KT. Suka Maju) dari Minahasa mengakui pendapatan petani perbenihan meningkat tajam. Dibuktikan petani usai panen di bulan Februari, bisa menunggu program kelanjutan ini untuk menanam ulang, dan sudah 80 ha lahan petani yang sudah panen kemarin, sudah mendaftarkan diri untuk menanam kembali benih ini, 20 Ha masih menunggu masa panen, dan ada 50 Ha lahan petani baru yang melihat keberhasilan petani perbenihan, mengajukan diri untuk menjadi petani benih, beliau berharap program lanjutan di 2020 ini bisa cepat terealisasi, karena Petani sudah banyak yang mengantri untuk menanam kembali.

Sementara Kepala Balit Tanaman Sereal Dr Muhammad Azrai SP, MP mengatakan, kesuksesan penangkaran benih tak lepas dari pendampingan dan pengawalan seluruh stake holder yang ada, baik Pusat, Distanak Sulut, Disperta Kabupaten, Penyuluh, POPT dan mitra (PT.TWINN), serta PBT selaku bagian dari BPSB sebagai Pengontrol Mutu dan Kualitas Benih.
“Harapan saya kesuksesan ini bisa direplikasi untuk petani di Provinsi lain. Ketekunan dan pengalaman petani penangkar menjadi kunci kesuksesannya,” tukas Muhammad.
PT. MSM juga ikut menanam di bekas tanah tambang dan juga beberapa KT area lingkar tanam yang bekerja dengan PT. TWINN.
Didapat berdasarkan hasil survey di tingkat petani (Di Wilayah Remboken), Pendapatan mereka meningkat lebih dari 200%, dengan keuntungan lain mereka bisa menjual hasil panen mereka tanpa perlu melakukan penjemuran.
Selain itu, dengan adanya Program ini , secara tidak langsung Perputaran uang yang dulu biasanya hanya dinikmati oleh Petani benih di Jawa, sekarang bisa dinikmati sendiri oleh Petani di Sulut. Sebagai catatan untuk penanaman 100Ha saja di Remboken ada perputaran uang pembelian tongkol di tingkat petani hampir 3 Miliar.
Michael Christian Soukotta sebagai Perwakilan PT.TWINN di wilayah Sulawesi mengatakan, yang paling utama dari program ini adalah peningkatan SDM Petani, dari yang semula belum mengenal tentang bagaimana pembuatan Benih Hibrida, mereka menjadi tau bagaimana membuat Benih Hibrida tersebut, di sisi lain secara otomatis Peningkatan SDM di tingkat Budidaya Pertanian menjadi meningkat secara otomatis dikarenakan adanya transfer ilmu, baik dari Penyuluh, maupun Petugas Lapangan dari PT.TWINN.
Jika program ini berjalan mulus di tahun 2019, selanjutnya dengan program lanjutan di tahun 2020, dipastikan Sulawesi Utara akan menjadi Provinsi yang tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan benih sendiri. Akan tetapi bisa mensuplay produk Benih Jagung Hibrida ke daerah lainnya di luar Sulut. (st/dw)

























Komentar