Gadis Minahasa Tawarkan “One-tier board system”

Sulut Times, Manado: FRISTIAN HUMALANGGI, panggilan akrab Fristy fisela-sela kesibukannya Fristian sebagai seorang jurnalis dituntut untuk terus ikuti berbagai isu nasional maupun lokal.
Gadis berdarah Minahasa ini merasa terpanggil untuk perlu memajukan lagi almamater khususnya sebagai alumni Fakultas Hukum agar dapat mendorong kaum muda millenial untuk bergerak aktif membangun Ikatan Keluarga Alumni IKA-FH Unpad bergaung di tingkat nasional dan tingkat internasional.


Bersama dengan rekan alumninya Jauhari Kamal, Fristian menawarkan konsep pada alumninya yaitu “One-tier board system” dimana dengan sistem ini mampu menyerap asiprasi bakal bottom–up bagi seluruh alumni Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.
Mata dan telinga harus sanggup melihat tajam dan mendengar dan menterjemahkan aspirasi para komisioner perwakilan tiap angkatan, perwakilan tiap daerah. “Sekarang era digital. Semua serba terkoneksi. Perkembangan teknologi Informasi bisa membuat kita dengan mudah punya database alumni berbasis digital yang kuat. Apalagi semua menggunakan gawai. Isu ini tak seharusnya jadi masalah klasik yang tak kunjung selesai” jelaskan Fristy dengan semangat.

Sosok Fristian Shamsapeel Griec Humalanggi atau yang dikenal dengan nama Fristian Griec memulai kariernya sejak tahun 2012 hingga 2014, di Indosiar sebagai pembawa berita ((Fokus Pagi, ((Patroli dan ((Fokus Sore, dengan gunakan nama Fristian Humalanggi.

Sejak akhir Juli 2015 Fristian pindah dari RTV ke Kompas TV dimana dia diberi kesempatan membawa program primetime talkshow Kompas Malam dan sering hadir dalam program Kompas Petang.
Kesibukan adalah suatu hal yang dianggap dinamis bagi Fristy, berawal pagi hari harus dapat mewawancarai Menteri, Ketua DPR, Kapolri, Panglima TNI atau pejabat maupun tokoh lain. Lalu di siang hari hingga sore mencari informasi yang akurat dari para pedagang yang jualan di pasar, nelayan, Ibu rumah tangga, petugas keamanan, siapapun, apapun latar belakangnya, berapapun usianya, Fristy dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan mereka.

Hari-hari Fristian Griec, nama yang baru dipakai oleh penyuka kopi hitam ini sejak pindah ke RTV, sebagai jurnalis itulah yang mengasah kemampuannya untuk dapat berkomunikasi baik dengan siapapun. Sebagai seorang jurnalis televisi setiap hari dia beradu dengan kecepatan menyampaikan informasi kepada publik. “Tapi tak hanya cepat, juga harus secara tepat karena pertanggungjawabannya kepada publik. Apabila salah, tidak hanya nama pribadi dan nama media televisi tempatnya bernaung yang dipertaruhkan, namun juga kepentingan publik” kata Fristy.

Liputan-liputan di daerah bencana dan konflik, membuatnya untuk menjadi pribadi yang cepat beradaptasi dengan situasi apapun. Salah satunya adalah pada saat pembebasan sandera warga negara Indonesia oleh kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina Selatan. Dengan “kenekatan yang terukur”, memperhitungkan risiko, memutuskan “timing” yang tepat, dan berhasil menembus zona merah tempat para sandera ditahan ketika itu.

Lalu kapan Fristy ke tanah leluhur untuk turut membangun Sulawesi Utara?
So pasti itu jo, Jawabannya dengan tegas. Pakatuan wo Pakalawiren, sukses Fristy !

(Visited 425 times, 1 visits today)

Komentar