Suluttimes.com, AIRMADIDI – Bupati Minahasa Utara (Minut) Joune Ganda (JG) sejak awal mengaku terkejut, bahkan tidak pernah bermimpi atau berhayal menjadi seorang aktor film layar lebar saat ditawari Sutradara Puguh PS Admaja. Apalagi bareng aktor kawakan Ray Sahetapy dalam film ‘LOKA NANTA’.
Lebih lagi, Bupati JG juga mengaku bangga mendapat kehormatan menulis kata pengantar dari novel Loka Nanta, notabene film ini diangkat, mengisahkan cerita cinta sepasang kekasih berbeda Agama.
Pasca diluncurkan awal bulan Maret 2023 lalu, novel ‘Loka Nanta’ yang diterbitkan PT. Elex Media Komputindo masuk deretan best seller di sejumlah kota besar di tanah air, seperti Gramedia World Emerald Bintaro, Gramedia Matraman, Gramedia Central Park, Gramedia Metropolitan Mall Bekasi, termasuk 2 toko Gramedia di kota Manado, sebut saja berlokasi di jalan Sam Ratulangi, maupun Mantos.
Novel setebal 184 halaman ini dibandrol Rp 102 ribu untuk luar pulau Jawa, dan Rp 85 ribu khusus di pulau Jawa.
Bupati Joune Ganda menjelaskan, novel
berjudul Loka Nanta sangat mengedukasi secara universal khususnya generasi muda, terkait dengan menyikapi fenomena makin “menguaknya” isu perbedaan ditengah masyarakat.
“Saya bangga diberikan kepercayaan menulis Kata Pengantar sebuah novel mengisahkan sepasang anak manusia sepakat untuk menjadi satu, maka harusnya tidak ada penghalang yang bisa mematahkan semangat untuk selalu bersama. Karena manusia ditakdirkan lebih cerdas dalam menghadapi masalah dengan kesabaran hati, sebab itulah jalan keluar untuk menghadapi masalah tersebut,” ujar JG sapaan akrab Joune Ganda notabene dalam film tersebut berperan sebagai ayah Loka.
Aktor pemeran utama “Loka dan Nanta”. Loka diperankan Brian Andrew, dan Nanta diperankan artis cantik Fiedra Azalia, wanita berdarah Kawanua. Sedangkan Ray Sahetapy berperan sebagai orang tua Ananta.
Sebagaimana Kata Pengantar yang ditulis JG, cinta mereka merupakan cinta sejati, namun tidak harus menyatu. Karena mereka menyadari cinta sejati itu terpisah, tapi tak ada yang berubah. Mereka menyerahkan kepada Tuhan yang akan menjawab arti cinta sejati mereka.
“Dan pada akhirnya, semua itu adalah ujian, ujian dari Tuhan. Cinta berbeda iman itu hanya sebuah ujian, ujian untuk memastikan apakah manusia lebih mencintai penciptanya atau ciptaan-Nya,” tulis Joune Ganda. (dw/st)
























Komentar