Suluttimes.com, MINUT – Sebanyak 12 kelompok pemuda di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) terpilih sebagai penerima Microgrant Youth Climate Action Fund (YCAF) 2026. Mereka akan mendapat kesempatan memperoleh dukungan pendanaan untuk merealisasikan berbagai inovasi dan aksi nyata dalam menghadapi perubahan iklim.
Pengumuman penerima microgrant disampaikan Sekretaris Daerah Minahasa Utara, Ir. Novly Wowiling, saat mewakili Bupati Dr. Joune Ganda dalam kegiatan yang berlangsung di Atrium Kantor Bupati Minut, Senin (12/10/2026).
Kedua belas kelompok tersebut ditetapkan berdasarkan hasil penilaian Dewan Juri Independen setelah melalui proses seleksi terhadap puluhan proposal yang diajukan peserta. Setiap kelompok berpeluang memperoleh pendanaan sekitar USD 1.000 hingga USD 5.000 untuk mendukung pelaksanaan proyek yang diusulkan.
Adapun 12 kelompok penerima microgrant beserta proyek yang diusung, yakni:
-Fountaine Squad – SMA UNKLAB, dengan proyek Solar Water Harvesting Pintar.
-Karang Taruna Desa Kinabuhutan, melalui proyek integrasi pengolahan sampah pesisir dan konservasi mangrove berbasis ekonomi komunitas.
-Pemuda Katolik Komisariat Minahasa Utara, dengan proyek Darunu Youth Mangrove Resilience.
-Terra Rangers SMA UNKLAB, melalui proyek Fire-Risk IoT Station, berupa uji coba pemantauan risiko kebakaran hutan dan peringatan dini berbasis masyarakat.
-Pemuda Selam Seluruh Indonesia, dengan proyek Youth Coral Guardians.
-SMP Negeri 3 Likupang Timur, melalui proyek Garda Laut Muda, yang berfokus pada percepatan restorasi terumbu karang dan mitigasi dampak perubahan iklim.
-SMK Laikit – UKS INTI, dengan proyek MINA SIRKULAR Berbasis BSF.
-KPA Likupang, melalui Minahasa Utara Green Resilience Project: Torang Jaga Alam, Alam Jaga Torang.
-Garda Mangrove Palaes, dengan proyek konservasi mangrove, pesisir, dan lingkungan laut.
-Mangrove Youth Guardians Mantehage, melalui proyek restorasi mangrove untuk membangun kawasan pesisir Pulau Mantehage yang tangguh terhadap perubahan iklim.
-Tim Pemuda Peduli Iklim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Klabat, dengan proyek Jaga Likupang, berupa restorasi mangrove dan pembersihan sampah pesisir untuk mendukung pariwisata berkelanjutan.
-Pemuda Bahari Gangga I, dengan proyek Waste Recycling for a Healthy Environment.
Program YCAF North Minahasa 2026 merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam mendorong keterlibatan generasi muda untuk menghasilkan solusi inovatif terhadap persoalan lingkungan. Program yang didukung Bloomberg Philanthropies ini membuka ruang bagi pemuda untuk mengembangkan gagasan di bidang pengelolaan sampah, konservasi mangrove dan terumbu karang, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya air, hingga pemanfaatan teknologi untuk mitigasi perubahan iklim.
Dalam sambutan Bupati yang dibacakan Sekda Novly Wowiling, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menyampaikan apresiasi kepada seluruh kelompok pemuda yang telah berpartisipasi dalam program tersebut.
Menurut Bupati, keterlibatan generasi muda merupakan bagian penting dalam membangun Minahasa Utara yang tangguh dan berkelanjutan.
“Program Youth Climate Action Fund bukan sekadar kompetisi gagasan, melainkan kesempatan bagi generasi muda untuk membuktikan bahwa kreativitas, inovasi, dan kepedulian mereka mampu menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Novly mengutip sambutan Bupati.
Bupati juga berharap dukungan pendanaan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab sehingga setiap proyek mampu menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi awal dari gerakan lingkungan yang berkelanjutan.
Penetapan 12 penerima microgrant dilakukan melalui penilaian Dewan Juri Independen yang melibatkan lima akademisi dan profesional dari berbagai disiplin ilmu.
Kelima anggota dewan juri tersebut adalah Bobby Hamenda, M.Si., MIntDevEc, akademisi Universitas Negeri Manado; Dr. Lady Grace Jane Giroth, S.S., M.Si., M.Pd., akademisi Universitas Pembangunan Indonesia Manado; Hizkia H. D. Tasik, Ph.D., akademisi Universitas Sam Ratulangi; Mercy Maggy Franky Rampengan, S.Pi., M.App.Sc., Ph.D., akademisi Universitas Negeri Manado; serta Piet Hein Pusung, S.STP., M.Si., akademisi Institut Pemerintahan Dalam Negeri.
Keterlibatan para juri dari latar belakang keilmuan berbeda diharapkan memastikan proses penilaian berlangsung secara objektif, dengan mempertimbangkan kualitas gagasan, inovasi, serta relevansi proyek terhadap kebutuhan lingkungan di Minahasa Utara.
Dari total 54 kelompok yang mengikuti program, sebanyak 20 kelompok masuk dalam tahap seleksi lanjutan sebelum akhirnya ditetapkan 12 kelompok yang dinilai layak menerima dukungan pendanaan.
Jangkau Pemuda di Wilayah Kepulauan
Sementara itu, City Lead YCAF North Minahasa 2026, Sefferson Sumampouw, S.STP., S.IP., M.Si., yang juga menjabat Kepala Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Minahasa Utara, menjelaskan bahwa pelaksanaan program ini memiliki tantangan tersendiri karena kondisi geografis Minut mencakup wilayah daratan, pesisir, dan kepulauan.
Menurut Sefferson, salah satu perhatian utama tim pelaksana adalah memastikan pemuda di wilayah kepulauan memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi, meskipun menghadapi kendala jaringan internet, akses transportasi, dan keterbatasan informasi.
Untuk itu, Tim YCAF North Minahasa melakukan sosialisasi, pendekatan langsung, dan pendampingan kepada kelompok pemuda di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Bangka, Gangga, Talise, Nain, dan Mantehage.
“Kami ingin memastikan bahwa kesempatan mengikuti YCAF terbuka bagi generasi muda di seluruh wilayah Minahasa Utara, termasuk mereka yang berada di pulau-pulau. Potensi dan kreativitas pemuda tidak boleh dibatasi oleh kondisi geografis. Justru dari wilayah kepulauan dapat lahir inovasi lingkungan yang memberikan dampak besar bagi masyarakat,” ungkap Sefferson.
Ia menambahkan, program ini tidak hanya bertujuan menjaring proposal terbaik, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan, meningkatkan kapasitas, serta menumbuhkan kepemimpinan generasi muda dalam merespons perubahan iklim.
Setelah pengumuman penerima microgrant, tahapan berikutnya mencakup pelaksanaan proyek, penguatan kapasitas kelompok penerima, serta pemantauan dampak kegiatan.
“Keberhasilan YCAF tidak hanya diukur dari berapa banyak kelompok yang memperoleh pendanaan, tetapi dari sejauh mana proyek mereka mampu menyelesaikan persoalan lingkungan, menggerakkan masyarakat, dan terus memberikan manfaat setelah program selesai. Kami ingin membangun generasi muda yang bukan hanya peduli terhadap perubahan iklim, tetapi juga mampu memimpin aksi nyata,” tutup Sefferson.
Melalui program ini, Pemkab Minut berharap semakin banyak generasi muda yang berperan aktif dalam menjaga lingkungan sekaligus menghadirkan inovasi yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah, termasuk kawasan pesisir dan kepulauan.(dw/st)


























Komentar