Suluttimes.com, MINUT – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta dampaknya terhadap ketahanan pangan menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Di tengah kondisi tersebut, dukungan gereja dinilai penting untuk memperkuat kepedulian dan semangat bersama dalam menghadapi bencana.
Hal itu disampaikan Bupati Minahasa Utara, Pnt. Dr. Joune Ganda, saat menghadiri Ibadah Doa dan Puasa Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) di Pendopo Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Sabtu (17/10/2026).
Dalam kegiatan yang dipimpin Pdt. Dr. Adolf Katuuk Wenas, M.Th., tersebut, ratusan jemaat dan pelayan khusus GMIM berkumpul untuk berdoa bagi pemulihan daerah yang tengah menghadapi berbagai tantangan akibat kondisi cuaca ekstrem.
Joune Ganda menyampaikan apresiasi kepada Sinode GMIM yang telah memilih Minahasa Utara sebagai lokasi pelaksanaan ibadah.
Menurutnya, dukungan doa dari gereja menjadi penguatan moral bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi situasi sulit.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, saya menyampaikan banyak terima kasih karena daerah kita dijadikan tempat untuk melaksanakan ibadah doa dan puasa ini,” ujar Joune.
Ia menjelaskan, Minahasa Utara masih menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan berkepanjangan yang berdampak pada kehidupan masyarakat. Bahkan, status tanggap darurat beberapa kali diperpanjang karena titik api belum sepenuhnya padam.
Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan ketika api mendekati kawasan hutan lindung Gunung Klabat. Selain mengancam kelestarian lingkungan, kebakaran juga menyebabkan asap menyelimuti sejumlah wilayah dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Menurut Joune, status tanggap darurat diperlukan untuk memperkuat langkah penanganan bencana, termasuk mendukung alokasi anggaran bagi penyaluran air bersih, terutama untuk masyarakat di wilayah kepulauan yang terdampak kekeringan.
Meski hujan deras sempat mengguyur wilayah Minahasa Utara sehari sebelum pelaksanaan ibadah, pemerintah tetap mempertahankan kesiapsiagaan. Tim pemadam kebakaran terus disiagakan untuk mencegah api meluas dari kawasan perkebunan ke permukiman penduduk.
Pemkab Minut juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memperkuat sarana dan prasarana penanggulangan bencana.
Di sisi lain, Bupati mengingatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air bersih dan kebakaran, tetapi juga berpotensi mengganggu produksi pertanian serta meningkatkan harga kebutuhan pokok.
Penurunan hasil panen sejumlah komoditas dapat memicu kenaikan harga pangan dan menekan daya beli masyarakat.
“Kalau inflasi tinggi, tanpa kita sadari kemampuan daya beli masyarakat langsung menurun,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah, di antaranya Gerakan Pangan Murah guna membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau.
Selain itu, Gerakan Tanam Cepat terus didorong untuk meningkatkan produksi komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi, seperti cabai, bawang, dan tomat.
Joune berharap persoalan karhutla, kekeringan, ketersediaan air bersih, dan ketahanan pangan turut menjadi perhatian dalam doa jemaat GMIM secara berkelanjutan.
Namun, ia menegaskan bahwa upaya spiritual perlu berjalan beriringan dengan tindakan nyata melalui kerja sama pemerintah, gereja, dan masyarakat.
Ibadah Doa dan Puasa Sinode GMIM tersebut menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas dan kepedulian bersama, sekaligus mendorong seluruh elemen masyarakat berperan aktif dalam menghadapi ancaman bencana dan dampaknya bagi kehidupan warga Minahasa Utara.(dw/st)




























Komentar