Oleh: Ronald Ginting
Sulut Times, Manado – Pengguna Facebok dengan nama akun Tita Ganza, di grup Tetengkoren Sulut – Manguni 123 menceritakan seorang bayi diduga ditahan RSUP Kandou lantaran orang tuanya menunggak biaya persalinan dan perawatan selama di rumah sakit.
“Sepupu saya melahirkan di RS Malalayang tanggal 30 Maret. Anak pertama yang ditunggu selama 11 tahun pernikahan. Singkat cerita, bayi tidak pernah diperlihatkan sampai sang mama keluar RS. Karena keterbatasan bayar biaya persalinan, pihak RS menahan bayi, dengan syarat jika biaya sudah lunas baru bisa sang bayi dibawa pulang,” tulisnya.
Dia menuturkan, biaya awal sekira Rp 11,5 juta. Sepupunya lalu pulang mengurus BPJS Kesehatan. Tapi karena situasi akibat pandemi Covid-19, pengurusan BPJS terhambat. “Selama itu, ayah si bayi selalu menjenguk. Si bayi dikatakan dalam kondisi sehat. Lewat seminggu, biaya ternyata sudah Rp 40-an juta. Setelah 10 hari, ayah bayi berencana menuju RS untuk membicarakan solusi untuk menyicil biaya RS. Saat itu bertepatan Jumat Agung, jadi ke RS agak siang setelah ibadah,” bebernya.
Tak disangka lanjutnya, si bayi ternyata sudah meninggal dunia sejak pukul 8 pagi. “Itu juga diketahui dari perawat yang ditelepon sepupu saya. Pun waktu itu sudah jam 11 siang. Artinya, kalau sepupu saya tidak menelepon, mereka tidak tahu anaknya sudah meninggal dari pagi. Pihak RS tidak memberi kabar ke keluarga bayi,” sesalnya.
“Ibu si bayi akhirnya bisa melihat anaknya, walaupun sudah dalam keadaan tak bernyawa. Yang lebih memiriskan lagi, tagihan RS naik jadi sekira Rp 50,7 juta,” katanya lagi.
Ketika dimintakan tanggapan, Dirut RSUP Prof Kandou Jimmy Panelewen, membenarkan ada pasien yang meninggal seperti yang diceritakan di medsos. “Namun cerita yang disampaikan kurang pas termasuk kondisi pasiennya. Pasien sengaja tidak dipulangkan dokter, baru ibu yang dipulangkan, karena keadaannya memang tidak menguntungkan, itu sebabnya dirawat di ruang NICU ruang intensif untuk bayi baru lahir dengan kondisi jelek,” papar Panelewen, Minggu (19/4).
Dia menambahkan orang tua memang tidak boleh bebas masuk ke ruang tersebut karena banyaknya bayi dengan kondisi tidak baik. “Tapi harusnya keluarga tetap ada di RS, ada ruangan di sekitar ruang NICU. Perawat susah untuk ketemu dengan keluarga karena sering tidak berada di RS sehingga komunikasi sulit,” jelasnya lagi.
Persoalan biaya, lanjut dia, menjadi dilematis dan hampir selalu menjadi masalah jika pasien tidak punya BPJS. Sebab RS juga diaudit untuk hal ini. “Banyak informasi di medsos yang diunduh itu, perlu diklarifikasi,” sebutnya.
“Pasien bukan peserta BPJS, total tagihan Rp24.921.466. Yang dibayar keluarga Rp300.000, sisanya dibuat perjanjian piutang Rp24.621.466. Petugas admin di NICU memberi informasi progress tagihan setiap kali ketemu keluarga. Mengenai informasi tagihan mencapai Rp50,7 juta, saya tidak tahu keluarga dapat info dari mana,” imbuhnya mengakhiri. (gtg)


























Komentar