Sulut Times, Bitung : Puluhan warga secara spontanitas mendatangi dan berkumpul di lokasi mata air Aerujang Danowudu Kelurahan Girian Permai Kecamatan Girian, Rabu (27/11/2019).
Warga yang datang dari berbagai perwakilan Ormas dan Masyarakat Adat Danowudu itu berkumpul di mata air Aerujang yang ada di kawasan hutan adat Danowudu guna menyelamatkan salah satu Situs Budaya yang ada di Kota Bitung dari kehancuran.

Mereka pun sepakat untuk menyelamatkan mata air Aerujang dari kehancuran dengan meminta kepada semua pihak terkait baik Pemerintah maupun pihak Perusahaan untuk menggeser pembangunan jalan tol Manado-Bitung dari lokasi tersebut.
“Mata air Aerujang bukan hanya sekedar mata air tapi juga situs budaya yang harus dilindungi dan kami minta pembangunan Jalan tol digeser,” kata warga secara spontan.

Permintaan menggeser pembangunan jalan tol dari mata air Aerujang mendapat dukungan penuh dari Aliansi Peduli Aerujang yang ikut hadir bersama warga.
“Apa yang disuarakan masyarakat adat Danowudu bersama Ormas kami dukung penuh. Pembangunan jalan tol Manado-Bitung harus digeser 200 meter dari lokasi mata air Aerujang,” tegas perwakilan Aliansi Peduli Aerujang, Riusaki Raizo.

Riusaki menyampaikan, permintaan menggeser pembangunan jalan tol Manado-Bitung sejauh 200 meter dari lokasi mata air Aerujang bukan tanpa dasar.
“Permintaan kami bersama Ormas dan Masyarakat Adat Danowudu didasari Undang-Undang Nomor 17 tahun 2019 tentang Sumber Daya Air. Dalam Undang-undang itu dinyatakan tidak diperbolahkan merusak ataupun mengganggu sumber air, apapun alasannya dan hanya diperbolehkan ada aktifitas pembangunan di radius 200 meter,” ungkapnya.

Riusaki juga menyatakan, akan terus memperjuangkan tuntutan ini sampai pembangunan jalan tol digeser sejauh 200 meter dari mata air Aerujang.
“Kami berharap dukungan dari semua elemen masyarakat di Kota Bitung untuk bersama-sama menyelamatkan mata air Aerujang dari kehancuran Akibat adanya pembangunan tol,” ujarnya.
Selain warga, hadir juga di lokasi mata air Aerujang Direktur PDAM Duasudara Kota Bitung, Raymond Luntungan bersama sejumlah staf untuk melihat langsung dampak dari pembangunan jalan tol di lokasi itu.

Diketahui, kondisi mata air Aerujang Danowudu kini sekarat karena dari 7 lubang mata air kini tinggal 2 lubang yang mengeluarkan air.
Selama ini, mata air Aerujang tidak hanya menjadi tumpuan warga Danowudu dan sekitarnya untuk mendapatkan pasokan air bersih, tetapi juga ribuan warga Kota Bitung sangat bergantung dari mata air tersebut.
























Komentar