Sulut Times, Minut : Sore selepas Maghrib saat malam tiba Rabu (29/02/’2020), saya berbincang dengan beberapa kawan tentang keprihatinan terkait dampak – dampak dari covid-19 di Sulut.
Pada kesempatan ini saya mengambil posisi sebagai ‘penampung suasana kebatinan’ atau jadi pendengar curahan hati (curhat) teman – teman.
Ada 2 hal utama yang terangkat yakni tentang masalah sosial ekonomi yang semakin membelit masyarakat dan masalah koordinasi antar Pemangku Kebijakan di Sulut.
Masalah pertama, Sosial Ekonomi yang dihadapi masyarakat Sulut dari hari ke hari semakin memprihatinkan.
Dampak dari ganasnya covid-19 yang memaksa banyak masyarakat harus kehilangan pemasukan untuk biaya hidup sudah semakin terasa serta berpengaruh signifikan dan yang tersisa adalah harapan agar daya tahan masyarakat dengan kekuatan mental melampui batas maksimal.
Hal ini diyakini akan bisa teratasi jika ada rasa kebersamaan, dimana masyarakat merasa Pemerintah Daerah di Sulut benar terlihat berjibaku untuk melaksanakan kewajiban melindungi masyarakatnya.
Masalah kedua yang dikeluhkan oleh masyarakat adalah belakangan ini seakan masyarakat disajikan suatu tontonan “drama” memalukan tentang parahnya koordiansi antar Pemimpin dan jajarannya oleh sejumlah oknum Pemangku Kebijakan termasuk oknum ASN.
Ironis, ditengah megap-megapnya masyarakat, sejumlah oknum Pejabat Negara termasuk ASN malah ‘mereka’ mempertontonkan sikap – sikap yang jauh dari etika di sejumlah sosial media yang sebenarnya itu adalah wilayah publik.
Parahnya sikap itu tidak menunjukan substansi masalah namun yang nampak hanya sikap kepentingan ‘politik’ pribadi agar terlihat loyal dimata Pimpinan.
“Perilaku ini biasa dikenakan istilah ABS – Asal Bos Senang”.
Hal ini jika terus terjadi, maka bisa dibayangkan apa yang akan dihadapi masyarakat.
“Perbedaan pandangan yang terjadi antar Pemangkiu Kebijakan di Sulut baik Propinsi dan Kabupaten / Kota sebenarnya wajar-wajar saja karena biasanya hal itu hanya beda sudut pandang dan cara memandang suatu masalah”.
Hal ini tidak sulit diatasi, caranya sangat sederhana yaitu komunikasi dan koordinasi.
Rasanya solusi ini semua Pemimpin di Sulut (termasuk Pejabat ASN) sangat paham karena ini bagian dari yang disebut OM atau Organisasi dan Manajemen.
Pertanyaannya kenapa hal ini berulang terjadi..???.
Teman-teman saya menjawab dengan solusi, satu istilah dikalangan anak muda, Reduce ur Ego Bos…”*🙏🙏🙏. *Singkirkan Ego Kamu Bos…!*
Stop mempertontonkan kelemahan komunikasi dan koordinasi antar Pemimpin di wilayah publik..!!!
Kalau memang anda – anda Pemimpin Kami, lebih baik duduk 1 meja, bicara dan lahirkan 1 solusi untuk rakyat Sulut.
Sulit…?? Tidak, cukup maknai apa itu Reduce ur Ego… 🙏🙏🙏
Tolong pahami suasana kebatinan masyarakat Sulut !!!
Himbauan disampaikan dari desa Suwaan-Kalawat, Minahas Utara. Sulawesi Utara.
Salam Kasih
Taufik M Tumbelaka
























Komentar