Redam Tekanan Inflasi akibat El Nino, Sektor Pariwisata dan Perdagangan Luar Negeri Sulut Mampu Cetak Kinerja Positif

Sulut Times, MANADO : Tekanan inflasi di Sulawesi Utara diproyeksikan masih berlanjut seiring berlangsungnya fenomena cuaca panas ekstrem.

Pengamat Ekonomi Sulut, Gerdi Worang, menilai gejolak harga akibat faktor iklim merupakan siklus harian, tetapi kenaikan kali ini diperkirakan melampaui kondisi normal.​

“Kenaikan harga hortikultura disebabkan fenomena El Nino. Kita perkirakan harganya naik hingga 10 persen dari yang biasanya 5 persen, sementara harga beras akan naik secara konstan,” ujar Gerdi.​

Menurutnya, persoalan di sektor hortikultura maupun tanaman pangan tidak dapat diselesaikan secara instan karena memerlukan proses budi daya yang memakan waktu.

Oleh karena itu, pembenahan butuh dukungan infrastruktur pertanian yang memadai dari pemerintah pusat.​

Selain infrastruktur fisik, kepastian alokasi pupuk secara berkala dan konsisten setiap tahun menjadi hal vital agar pembangunan pertanian tetap berkelanjutan.​

Sementara itu, Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara pada 1 September 2026, resmi merilis laporan perkembangan lima indikator strategis daerah untuk periode Juli dan Agustus 2026.

Baca Juga  Segera, Stimulus Potongan PKB!!!

Laporan tersebut memotret dinamika inflasi, kesejahteraan petani, perdagangan luar negeri, pariwisata, hingga moda transportasi daerah.

​Sulawesi Utara mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,29 persen pada Agustus 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini mendorong inflasi tahun kalender (Januari–Agustus 2026) berada di level 3,68 persen dan inflasi tahunan (year-on-year) mencapai 3,99 persen.

​Penurunan hasil panen akibat cuaca panas memicu kenaikan harga cabai rawit yang menjadi penyumbang utama inflasi. Komoditas lain seperti tarif angkutan udara, emas perhiasan, daun bawang, dan ikan cakalang turut memberi tekanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,57 persen. Namun, laju inflasi berhasil tertahan oleh penurunan harga beras, bawang merah, lemon, dan sabun mandi.

​Indikator Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada Agustus 2026 terkoreksi 2,14 persen menjadi 126,79. Penurunan ini disebabkan oleh merosotnya harga komoditas hortikultura, khususnya tomat dan bawang merah yang turun hingga 17,47 persen.

Baca Juga  5 Fakta Kejadian Naas Terbakarnya KM Barcelona V

​Sejalan dengan NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) melemah 3,09 persen ke level 131,34. Kondisi ini mengindikasikan penurunan kemampuan usaha pertanian dalam menutup biaya produksi, meskipun subsektor perikanan, perkebunan rakyat, peternakan, dan tanaman pangan masih mencatatkan tren positif.

​Nilai ekspor Sulawesi Utara pada Juli 2026 tercatat sebesar US$96,51 juta, atau turun 29,17 persen secara tahunan. Lemak dan minyak hewani/nabati masih menjadi komoditas unggulan dengan porsi 72,27 persen dari total nilai ekspor.

​Di sisi lain, nilai impor melesat 62,69 persen secara tahunan menjadi US33,33 juta. Meski kinerja ekspor terkontraksi, neraca perdagangan Juli 2026 tetap mengamankan surplus sebesar US63,18 juta, sehingga memperkuat akumulasi surplus Januari–Juli 2026 yang mencapai US$603,37 juta.

​Sektor pariwisata menunjukkan kinerja positif dengan mencatatkan 10.412 kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli 2026. Turis asal Tiongkok mendominasi pergerakan ini dengan kontribusi 41,99 persen atau sebanyak 4.372 kunjungan.

Baca Juga  PLN Buka Rekrutmen Umum 2025: Kesempatan Emas Generasi Muda di Sektor Energi Nasional

​Gairah pariwisata turut mendorong Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang hingga 47,20 persen. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas penumpang angkutan udara yang mencapai 156,76 ribu orang (naik 5,25 persen). Sebaliknya, transportasi laut mengalami penurunan kunjungan kapal sebesar 4,17 persen menjadi 942 unit dengan pergerakan penumpang yang cenderung stagnan.

(Visited 19 times, 19 visits today)

Posting Terkait

Baca Juga

Komentar