Sulut Times, KOTAMOBAGU – Ada rumah-rumah yang tidak pernah benar-benar sama setelah sebuah tragedi datang.
Pintu masih terbuka. Kursi masih tersusun. Foto-foto masih terpajang di tempatnya. Barang-barang masih tersimpan seperti biasa.
Namun, ada satu hal yang berubah untuk selamanya: seseorang yang selama ini mengisi rumah itu dengan suara, tawa, dan kehadirannya, tidak akan pernah pulang lagi.
Bagi sebagian orang, tragedi mungkin hanya berhenti sebagai angka dalam pemberitaan.
Delapan orang meninggal dunia, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, angka itu bukan sekadar angka. Di baliknya ada nama, wajah, cerita, kasih sayang, dan kenangan yang akan terus hidup.
Lima hari setelah kecelakaan maut dalam ajang Drag Race-Drag Bike di Kotamobagu, Kamis, 13 Agustus 2026, Ketua Tunas Indonesia Raya (TIDAR) Sulawesi Utara, Standius Bara Prima, datang mengetuk pintu rumah-rumah keluarga korban.
Ia datang ketika suasana perlahan mulai sepi.
Lintasan telah ditinggalkan. Riuh penonton telah lama berakhir. Sorotan terhadap tragedi pun perlahan mulai mereda.
Namun, di rumah-rumah keluarga korban, duka belum beranjak.
Standius tiba di Kotamobagu menjelang subuh. Sebelumnya, ia berada di Manado untuk melihat sejumlah korban yang masih menjalani perawatan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado.
Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menuju rumah-rumah keluarga korban.
Standius datang bersama Wakil Wali Kota Kotamobagu Rendy Virgiawan Mangkat, anggota DPRD Sulawesi Utara Dhea Lumenta, Ketua Panitia Drag Race-Drag Bike Lucky Sugeha, pengurus TIDAR Sulut dan Kotamobagu, serta Asisten I Pemkot Kotamobagu Sahaya Mokoginta.
Kunjungan diawali di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, kemudian berlanjut ke Desa Pontodon.
Di Pontodon, kedatangan rombongan disambut Sangadi Mulyono Mokodompit bersama keluarga.
Suasana duka begitu terasa.
Rumah yang beberapa hari sebelumnya mungkin dipenuhi suara orang yang dicintai, kini menyimpan kesunyian yang berbeda.
Standius memilih duduk bersama keluarga.
Tidak banyak kata yang mungkin mampu menghapus kesedihan.
Sebab, tidak ada kalimat yang dapat mengembalikan seseorang yang telah pergi.
Tidak ada santunan yang mampu mengembalikan seorang anak ke pelukan orang tuanya. Tidak ada bantuan yang bisa membuat seorang ibu kembali mendengar suara anaknya memanggil dari dalam rumah.
Namun, ada satu hal yang masih bisa dilakukan manusia ketika kematian datang terlalu cepat: hadir.
Hadir ketika keluarga sedang menangis.
Hadir ketika rumah sedang sunyi.
Hadir ketika sebagian orang mulai kembali kepada rutinitasnya, sementara keluarga korban masih berusaha menerima kenyataan bahwa orang yang mereka cintai tidak akan pernah kembali.
Standius datang membawa santunan sekaligus menyampaikan belasungkawa.
Namun, lebih dari sekadar bantuan, kehadiran itu membawa pesan sederhana: keluarga korban tidak sendirian.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke sejumlah rumah keluarga korban lainnya, termasuk di Kecamatan Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow.
Satu per satu pintu diketuk.
Satu per satu tangan dijabat.
Satu per satu keluarga ditemui.
Dan setiap rumah memiliki cerita kehilangan masing-masing.
Ketika Riuh Berubah Menjadi Duka
Tragedi pada Minggu, 9 Agustus 2026, mengubah suasana kegembiraan menjadi duka mendalam.
Ajang Drag Race-Drag Bike yang semestinya menjadi ruang olahraga dan hiburan justru berakhir tragis. Delapan orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Para korban kemudian mendapat penanganan di sejumlah rumah sakit di Kotamobagu dan Manado.
Tetapi ketika luka fisik mulai mendapatkan perawatan, ada luka lain yang jauh lebih sulit disembuhkan.
Luka yang tidak terlihat.
Luka yang mungkin justru terasa semakin dalam ketika rumah mulai sepi.
Ketika malam datang.
Ketika seseorang secara spontan ingin memanggil nama yang telah tiada, lalu tersadar bahwa tidak akan ada lagi suara yang menjawab.
Di situlah keluarga korban kini menjalani hari-hari mereka.
Dan di tengah suasana duka tersebut, nama Standius Bara Prima sebelumnya memang menjadi bagian dari sorotan publik setelah tragedi terjadi. TIDAR diketahui merupakan salah satu sponsor dalam penyelenggaraan Open Tournament Drag Race-Drag Bike Kotamobagu 2026.
Namun pada Kamis itu, Standius memilih datang langsung ke rumah keluarga korban.
Bukan untuk memperpanjang perdebatan.
Bukan untuk menghidupkan kembali riuh sebuah pertandingan.
Ia datang untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan santunan kepada mereka yang ditinggalkan.
Sebab ada saatnya sebuah tragedi tidak cukup dibicarakan melalui pernyataan atau pemberitaan.
Ada saatnya seseorang harus datang langsung.
Melihat mata keluarga yang kehilangan.
Mendengar cerita mereka.
Duduk bersama mereka.
Dan merasakan betapa panjang jalan yang harus dilalui untuk menerima sebuah kehilangan.
Lima Hari yang Terasa Begitu Panjang
Bagi dunia, lima hari mungkin cukup untuk membuat sebuah tragedi perlahan bergeser dari halaman utama pemberitaan.
Tetapi bagi keluarga korban, lima hari hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk belajar menerima kehilangan.
Lima hari sejak terakhir kali melihat orang yang dicintai.
Lima hari sejak sebuah telepon membawa kabar buruk.
Lima hari sejak rumah berubah menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang datang membawa doa dan air mata.
Setelah para pelayat pulang, setelah bunga-bunga mulai layu, dan setelah ucapan belasungkawa perlahan berhenti, keluarga akan kembali menghadapi kesunyian yang sebenarnya.
Kesunyian ketika tidak ada lagi suara langkah kaki.
Kesunyian ketika kamar seseorang tetap tertutup.
Kesunyian ketika barang-barang milik orang yang telah pergi masih berada di tempatnya.
Di situlah beratnya kehilangan mungkin benar-benar terasa.
Sebab kehilangan bukan hanya tentang seseorang yang berhenti bernapas.
Kehilangan juga tentang mereka yang ditinggalkan dan harus belajar menjalani hidup dengan ruang kosong di dalam hati.
Mungkin tidak ada kunjungan yang mampu menghapus kesedihan itu.
Tidak ada santunan yang mampu menggantikan orang yang telah pergi.
Namun ketika Standius duduk di rumah-rumah tersebut, setidaknya keluarga korban tahu bahwa luka mereka dilihat.
Kehilangan mereka didengar.
Duka mereka tidak berhenti menjadi angka dalam sebuah berita.
Dan di tengah dunia yang perlahan kembali bergerak, masih ada orang-orang yang memilih berhenti sejenak untuk mengetuk pintu rumah mereka.
Yang Tersisa Setelah Semua Pergi
Pada akhirnya, ketika sebuah tragedi berlalu, yang paling lama tinggal bukan suara mesin.
Bukan pula riuh penonton.
Bukan gemerlap sebuah pertandingan.
Yang tersisa adalah kenangan.
Foto yang tak lagi bergerak.
Pakaian yang tak lagi dipakai.
Kamar yang tetap menyimpan barang-barang pemiliknya.
Kursi yang tak lagi ditempati.
Dan sebuah nama yang akan terus hidup dalam doa orang-orang yang mencintainya.
Karena bagi mereka yang kehilangan, waktu tidak serta-merta menyembuhkan.
Waktu hanya mengajarkan bagaimana membawa luka itu dalam perjalanan hidup.
Hari itu, Standius datang membawa santunan.
Namun mungkin, bagi keluarga korban, ada sesuatu yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berarti dari sekadar bantuan.
Ada seseorang yang datang. Duduk bersama mereka. Menyapa luka mereka. Dan mengatakan, dengan kehadirannya, bahwa mereka tidak sendirian menghadapi kehilangan.
Popular posts:
- Diduga Melobi Pejabat Polda Sulut Berkordinasi… (16,037)
- Cewek Cantik Ini Kasih Tebakan, Jawabannya Bikin Baper (14,898)
- Tipidkor Nomor 9 Polda Sulut Periksa 2 Jam Kaban… (7,622)
- Lawan Covid-19, Maria Vania Bisa Berhubungan Intim 3… (7,572)
- Gara-gara Cukur Kelapa 8 Perangkat Desa Kali Selatan… (6,955)
- Raja Mafia Tanah Agus Elektrik Alias Abidin,… (5,902)
- KPU RI Launching Tahapan dan Jadwal Penyelenggaraan… (5,336)
- Judi Togel Makin Marak di Minahasa, Aparat di Minta… (4,828)
- Rio Dondokambey di mintai keterangan Polda Sulawesi Utara (4,631)
- Suka Duka Pertamina Salurkan BBM Satu Harga di… (4,226)



























Komentar