Suluttimes.com, MINUT – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dituntut semakin adaptif dan profesional dalam menghadapi pesatnya perkembangan investasi daerah. Masuknya proyek-proyek berskala besar, khususnya di sektor pariwisata, harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia aparatur agar mampu memberikan pelayanan dan mendukung pembangunan secara optimal.
Hal tersebut menjadi penekanan Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, saat menghadiri Launching Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXIII yang berlangsung di Atrium Kantor Bupati Minahasa Utara, Senin (2/11/2026).
Joune mengatakan, kepercayaan investor internasional terhadap Minahasa Utara merupakan peluang besar yang harus dijawab dengan peningkatan kapasitas birokrasi. Menurutnya, pejabat eselon II dituntut memiliki pola pikir maju, mampu berinovasi, serta bekerja dengan standar profesional yang lebih tinggi.
Ia mencontohkan pembangunan Hotel Shangri-La Manado di Desa Budo, Kecamatan Wori, dengan nilai investasi tahap pertama diperkirakan mencapai Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun.
Kehadiran jaringan hotel internasional tersebut, kata Joune, menjadi bukti bahwa Minahasa Utara memiliki potensi dan daya tarik bagi investor besar. Bahkan, pihak investor telah menyampaikan apresiasi terhadap pelayanan Pemkab Minut serta mengungkapkan rencana pengembangan hotel lainnya dengan konsep bintang empat.
“Ini tidak mudah bagi sebuah hotel berskala internasional. Mereka memutuskan harus berada di satu daerah. Artinya, daerah ini dinilai layak untuk sekian triliun uang pengusaha ditanamkan di sini,” ungkap Joune.
Ia menambahkan, keterlibatan kontraktor dan konsultan internasional dalam proyek tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berskala besar membutuhkan dukungan perencanaan, pelayanan, dan tata kelola pemerintahan yang berkualitas.
Karena itu, Joune meminta aparatur pemerintah, khususnya pejabat pimpinan tinggi pratama, tidak terjebak dalam pola kerja rutinitas, tetapi mampu menghadirkan terobosan yang berdampak langsung terhadap kemajuan daerah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menantang peserta PKN Tingkat II untuk menunjukkan prestasi terbaik. Apalagi, jumlah pejabat yang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tahun ini meningkat dari tiga orang menjadi delapan orang.
“Bayangkan, tiga kok jadi delapan. Artinya, mohon maaf, terpaksa kita memang menuntut standar yang tinggi. Kita target minimal lima harus masuk 10 besar,” tegasnya.
Joune turut mengapresiasi peserta yang sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional, termasuk meraih juara dua nasional. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi motivasi bagi peserta lainnya untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan mengikuti pendidikan kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh peringkat atau penghargaan. Hal terpenting adalah implementasi proyek perubahan yang dihasilkan agar benar-benar memberikan manfaat bagi organisasi pemerintahan.
Untuk itu, Joune meminta staf ahli bupati dan seluruh asisten melakukan evaluasi terhadap proyek perubahan peserta PKN pada angkatan sebelumnya. Langkah tersebut diperlukan guna memastikan inovasi yang telah dirancang tetap berjalan dan tidak berhenti sebatas dokumen persyaratan pendidikan.
Menurutnya, setiap proyek perubahan harus memiliki sasaran terukur, mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik.
Ia menegaskan, besarnya peluang investasi yang kini terbuka di Minahasa Utara harus diimbangi dengan kesiapan aparatur dalam menciptakan iklim pembangunan yang kondusif dan memberikan pelayanan profesional.
Dengan demikian, keberhasilan pemerintah daerah tidak hanya dilihat dari kemampuan mendatangkan investor, tetapi juga dari sejauh mana birokrasi mampu mengelola peluang tersebut agar menghasilkan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Minahasa Utara.(dw/st)




























Komentar